Kamis, 11 Oktober 2018

Banu menjadi Lebih Berat

Author
Bahrul Amsal

Semenjak Banu dilahirkan dan keluar dari rumah sakit di tanggal 19 Agustus kemarin, ia sama sekali belum diperiksa dokter anak sama sekali. Satu-satunya kesempatan yang dimiliki Banu bertemu dokter anak, ya di saat hari kedua ia lahir.

Itu pun saat itu sang dokter hanya menanyakan perkembangan BAB-nya. Apakah Banu sudah mengeluarkan kotorannya atau belum? Berapa kali dalam sehari ia BAB? Bagaimana ASI-nya, sudah menetek atau belum?

Perlu diketahui bagi calon orang tua muda, fase ini sangat penting diketahui karena berkaitan langsung dengan sistem pencernaan si buah hati.

Saya baru tahu setelah dilahirkan untuk ukuran normal sang bayi mesti mengeluarkan ee-nya yang khas berwarna hijau kehitaman. Dalam banyak kasus wujud ee ini mirip kekentalan pasta gigi di hari-hari pertama hingga hari ketiga. Jika selama tiga hari hal ini tidak terjadi, bisa dipastikan ada yang salah dari sistem pencernaan bayi.

Beruntung Banu dari hari pertamanya sudah BAB. Bahkan dalam sehari, kami harus mengganti loyornya berkali-kali. Istri saya bahkan sempat bercerita pengalaman anak temannya yang sampai harus dioperasi karena sampai melewati tiga hari bayinya belum mampu BAB.

Setelah dinyatakan sudah bisa meninggalkan rumah sakit, praktis Banu kami simpulkan dalam keadaan sehat. Banu kami lihat seperti bayi-bayi umumnya; menangis, tidur, ee, menangis,  tidur, ee, menangis, tidur, ee…

Banu memiliki suara tangisan yang lumayan keras. Ketika di kamar perawatan, dari empat bayi saat itu, dialah yang memiliki suaran tangisan paling nyaring.

Kata suster-suster tangisan bayi baik untuk perkembangan jantung. Sejak saat itu, ketika Banu menangis, kami tidak terlalu khawatir mengenai keadaannya.

Satu-satunya yang paling kami khawatirkan di hari pertama Banu adalah asupan ASI-nya. Sejak hari pertama payudara Lola belum mengeluarkan ASI. Sampai hari ketiga juga demikan.

Kami khawatir mengenai keadaan Banu, apakah ia lapar atau tidak? Apakah setiap ia menangis berarti ingin menyusu atau tidak? Apakah ia bisa bertahan tanpa ASI atau tidak?

Selidik punya selidik setelah ditanyakan kepada suster penjaga, bayi yang baru lahir masih memiliki lambung sebesar biji kelereng. Tidak usah khawatir si bayi bakalan kelaparan. Sistem tubuhnya mampu bertahan hingga seminggu sekalipun tanpa asupan ASI.

Usaha untuk mengadakan ASI tetap kami upayakan, disamping dengan terpaksa Banu sementara harus diberikan susu formula. Saya sedih melihat Banu diberikan susu formula.

ASI diawal-awal pasca kelahiran sangat dibutuhkan Banu. Kandungan sufor yang dimiliki ASI pertama sangat penting bagi perkembangan Banu. Saran untuk mengonsumsi daun katuk tidak bisa kami upayakan. Akhirnya hanya pil hasil eksraksinya saja yang dikonsumsi Lola.

Baru hari ketiga ASI Lola mulai keluar. Itupun setelah dilakukan pijatan yang awalnya membuat payudaranya sakit.

Setiap bayi saya yakin memiliki pengetahuan alamiah tentang cara dia mengisap ASI. Di antara mulut dan puting ibunya terdapat hubungan yang sangat dekat dan intim. Kedekatannya saya duga lebih dekat dari jaringan ikatan pusar saat ia masih di dalam rahim.

Itulah sebabnya, ketika sang bayi pertama kali dipertemukan dengan sumber ASI-nya, ia langsung bereaksi berdasarkan pengetahuan alamiahnya.

Banu saya yakin langsung bereaksi ketika pertama kali bibirnya menyentuh area sumber ASI-nya. Untuk beberapa bayi seringkali membutuhkan beberapa kali percobaan dan penyesuaian. Tapi tetap saja ia bakalan terkoneksi dengan pengetahuan alamiahnya ketika merespon sumber ASI di mulutnya.

Banu setelah beberapa kali didekatkan kepada sumber asinya langsung bereaksi. Lidahnya pandai ia gerakkan. Di hari kempat ia sudah mampu menyusu dari ibunya. 

(Oh iya, pengalaman menyusu setiap bayi berbeda-beda. Jangan khawatir kalau dedek bayinya belum mampu menyusui. Begitu pula ketersediaan ASI ibunya. Setiap ibu pasti dianugerahi ketersediaan ASI setiap selesai melahirkan!)

Di sekitar minggu kedua dan ketiga Lola terserang mastitis. Ini karena hampir setengan malam ia tidak menyusui. Tubuhnya menggigil dan setelah itu terserang demam. Payudaranya membengkak dan terasa panas. Setelah diperiksakan ia hanya diberikan obat penurun demam dan pereda rasa nyeri. Dokter berpesan agar segera memijit payudaranya yang bengkak.

Semenjak itu Lola jauh lebih rajin memerah ASI-nya dan menyimpannya di kulkas. Ketika itu pula ia rajin mengobati sendiri payudaranya. Mengompres dan memijatnya setiap dua atau tiga jam sekali.

Tapi, obat mastitis yang sebenarnya adalah si bayi itu sendiri. Pembengkakan penyumbatan saluran ASI hanya bisa teratasi jika si ibu tetap menyusui bayinya. Sedotan bayi jauh lebih ampuh dibandingkan alat perah ASI mana pun. Sedotan bayi yang kuat inilah yang bakal sedikit demi sedikit memperlancar sumbatan aliran ASI.

Di waktu-waktu ini pula saya menyaksikan betapa kuatnya Lola menahan rasa sakit ketika menyusui Banu. Sering kali matanya seketika memeram sampai harus membungkukkan badannya menahan perih putingnya. Di saat ini, saya semakin tersadar betapa besarnya kekuatan dan pengorbanan seorang ibu bagi anaknya.

“Semua untuk Banu.” Begitu sering ia katakan.

Tidak bisa dibayangkan ia rela menukar kesakitan demi kasih sayangnya untuk buah hatinya.

“Banu adalah obat”. Begitu saya sering katakan kepadanya.

Kurang sepekan lagi Banu berusia dua bulan. Selama ini kami belum tahu berapa berat badan Banu setelah dilahirkan. Seperti saya utarakan di awal tadi, belum pernah sekalipun Banu kami periksakan ke dokter.

Sampai baru pagi hari ini kakak ipar Ima, saudara saya, yang kebetulan bekerja di puskesmas singgah ke rumah membawa timbangan bayi. Banu kami timbang. Berat badannya naik 2,5 kg.

Itu berarti menjelang dua bulan Banu memiliki berat badan 5,3 kg.

Bagaimana dengan panjang tubuhnya?

Baru sore ini saya berinisiatif mengambil tali rafiah, mengukur Banu di saat ia tertidur. Saya bergegas ke gudang tempat bapak menyimpan alat-alat pertukangannya. Saya cocokkan panjang tali rafiah dengan panjang meteran. Panjang tubuhnya bertambah 12 cm dari 47 cm menjadi 59 cm.

Sekarang saya tahu alasan di balik baju-bajunya yang mulai kekecilan.

Rabu, 10 Oktober 2018

1 Bulan Pengalaman Bersama Banu

Author
Bahrul Amsal

KEMARIN iseng-iseng membuka akun instagram istri saya. Saya tidak menyangka bakal menemukan tulisannya tentang Banu seperti saya sertakan di bawah ini. Saya sertakan dengan beberapa perbaikan dan penyesuaian ketikan.

***

Alhamdulillah sebulan yang membahagiakan. Terima kasih untuk rasa ini nak. 
______________
1 bulan berlalu mama & abi banyak belajar dari Banu. Alhamdulillah capeknya, sakitnya, lelahnya, semuanya membahagiakan. Jadi kalau ditanya adakah lelah dan sakit yang membahagiakan? Jawabannya ada; mengasuh anak dengan tangan sendiri. ️
——————
 #edisisharingmamaDescription: πŸ™ˆ

Sampai hari ketiga asi mamaknya belum ada. Anaknya sudah rewel dari pagi sampai malam rumah ramai dengan suara tangisannya. Semua cara diusahakan, dari vitamin, pijat, pompa asi, makanan, semua dicoba agar anaknya bisa segera minum asi karena mamaknya ndak rela kalau diusianya Banu harus minum sufor. Alhamdulillah hari keempat tantangan ini berhasil dilalui dengan sempurnaDescription: πŸ‘πŸ»Description: ☺️
_______________
 Selama sebulan ini, mama & abi jad disorientasi waktu. Malam jadi siang, siang jadi malam. Minggu ke-2 & 3 tiap malam kami menemaninya &  bergantian menggendongnya dari jam 11 malam sampai jam 3/4 subuh. Setelah itu barulah bayinya tidur dengan nyenyaknya. Kalau nangisnya sudah klimaksnya, pernah sekali mamaknya lepas kontrol sampai ngomel2 Description: πŸ™ˆ Terus ndak lama mamaknya yang nangis2 merasa bersalah, minta maaf terus cium2, peluk2 bayiknya Description: 😁.
____________
Menghitung hari menjelang 1 bulan mamaknya demam menggigil sampai terkena mastitis (apa itu? coba search ya 🀣) semua usaha dilakukan ndak peduli walau harus nahan sakit, intinya harus lekas sehat. Lecet, luka, bengkak, ndak masalah intinya tidak ingin menyerah untuk memberi asi. Alhamdulillah kondisi mulai lebih baik dan semua yang dituliskan tinggallah cerita Description: 😁.
____________
Sekian curhatnya. Mohon dimaklumi karena mamak millenial jadinya dikit lebay Description: 😁Description: πŸ™ˆ.
 _______________

Semangat meng-asi-hi Description: 😍Description: πŸ’ͺ🏻 jgn pernah menyerah memberi nutrisi terbaik untuk buah hati kita Description: 😊.
__________
#diarybabybanu #babyonemonth #1monthold #mamaklife #supportasieksklusif #pejuangasip #sharingtime

Entri yang Diunggulkan

Banu, Perempuan, dan Sekolah (Sebuah Esai untuk Hari Perempuan Internasional)

Banu telah bersekolah, yang lebih tepat disebut kelas bermain sambil belajar, setelah ibunya mendaftarkannya pada sebuah kelas online dipand...

Postingan Populer