Semenjak Banu dilahirkan dan keluar
dari rumah sakit di tanggal 19 Agustus kemarin, ia sama sekali belum diperiksa dokter anak sama sekali. Satu-satunya kesempatan yang dimiliki Banu
bertemu dokter anak, ya di saat hari kedua ia lahir.
Itu pun saat itu sang dokter hanya
menanyakan perkembangan BAB-nya. Apakah Banu sudah mengeluarkan kotorannya atau
belum? Berapa kali dalam sehari ia BAB? Bagaimana ASI-nya, sudah menetek atau
belum?
Perlu diketahui bagi calon orang
tua muda, fase ini sangat penting diketahui karena berkaitan langsung dengan
sistem pencernaan si buah hati.
Saya baru tahu setelah dilahirkan untuk ukuran normal sang bayi mesti mengeluarkan ee-nya yang
khas berwarna hijau kehitaman. Dalam banyak kasus wujud ee ini mirip kekentalan
pasta gigi di hari-hari pertama hingga hari ketiga. Jika selama tiga hari hal
ini tidak terjadi, bisa dipastikan ada yang salah dari sistem pencernaan bayi.
Beruntung Banu dari hari pertamanya
sudah BAB. Bahkan dalam sehari, kami harus mengganti loyornya
berkali-kali. Istri saya bahkan sempat bercerita pengalaman anak temannya yang
sampai harus dioperasi karena sampai melewati tiga hari bayinya belum mampu
BAB.
Setelah dinyatakan sudah bisa
meninggalkan rumah sakit, praktis Banu kami simpulkan dalam keadaan sehat. Banu
kami lihat seperti bayi-bayi umumnya; menangis, tidur, ee, menangis, tidur, ee, menangis, tidur, ee…
Banu memiliki suara tangisan yang
lumayan keras. Ketika di kamar perawatan, dari empat bayi saat itu, dialah yang
memiliki suaran tangisan paling nyaring.
Kata suster-suster tangisan bayi baik untuk perkembangan jantung. Sejak saat itu, ketika Banu menangis, kami tidak terlalu khawatir mengenai keadaannya.
Kata suster-suster tangisan bayi baik untuk perkembangan jantung. Sejak saat itu, ketika Banu menangis, kami tidak terlalu khawatir mengenai keadaannya.
Satu-satunya yang paling kami
khawatirkan di hari pertama Banu adalah asupan ASI-nya. Sejak hari pertama
payudara Lola belum mengeluarkan ASI. Sampai hari ketiga juga demikan.
Kami khawatir mengenai keadaan Banu, apakah ia lapar atau tidak? Apakah setiap ia menangis berarti ingin menyusu atau tidak? Apakah ia bisa bertahan tanpa ASI atau tidak?
Kami khawatir mengenai keadaan Banu, apakah ia lapar atau tidak? Apakah setiap ia menangis berarti ingin menyusu atau tidak? Apakah ia bisa bertahan tanpa ASI atau tidak?
Selidik punya selidik setelah ditanyakan
kepada suster penjaga, bayi yang baru lahir masih memiliki lambung sebesar biji
kelereng. Tidak usah khawatir si bayi bakalan kelaparan. Sistem tubuhnya mampu
bertahan hingga seminggu sekalipun tanpa asupan ASI.
Usaha untuk mengadakan ASI tetap
kami upayakan, disamping dengan terpaksa Banu sementara harus diberikan susu
formula. Saya sedih melihat Banu diberikan susu formula.
ASI diawal-awal pasca kelahiran sangat dibutuhkan Banu. Kandungan sufor yang dimiliki ASI pertama sangat penting bagi perkembangan Banu. Saran untuk mengonsumsi daun katuk tidak bisa kami upayakan. Akhirnya hanya pil hasil eksraksinya saja yang dikonsumsi Lola.
ASI diawal-awal pasca kelahiran sangat dibutuhkan Banu. Kandungan sufor yang dimiliki ASI pertama sangat penting bagi perkembangan Banu. Saran untuk mengonsumsi daun katuk tidak bisa kami upayakan. Akhirnya hanya pil hasil eksraksinya saja yang dikonsumsi Lola.
Baru hari ketiga ASI Lola mulai
keluar. Itupun setelah dilakukan pijatan yang awalnya membuat payudaranya sakit.
Setiap bayi saya yakin memiliki
pengetahuan alamiah tentang cara dia mengisap ASI. Di antara mulut dan puting
ibunya terdapat hubungan yang sangat dekat dan intim. Kedekatannya saya duga
lebih dekat dari jaringan ikatan pusar saat ia masih di dalam rahim.
Itulah sebabnya, ketika sang bayi
pertama kali dipertemukan dengan sumber ASI-nya, ia langsung bereaksi
berdasarkan pengetahuan alamiahnya.
Banu saya yakin langsung bereaksi
ketika pertama kali bibirnya menyentuh area sumber ASI-nya. Untuk beberapa bayi seringkali
membutuhkan beberapa kali percobaan dan penyesuaian. Tapi tetap saja ia bakalan
terkoneksi dengan pengetahuan alamiahnya ketika merespon sumber ASI di
mulutnya.
Banu setelah beberapa kali
didekatkan kepada sumber asinya langsung bereaksi. Lidahnya pandai ia gerakkan.
Di hari kempat ia sudah mampu menyusu dari ibunya.
(Oh iya, pengalaman menyusu setiap bayi berbeda-beda. Jangan khawatir kalau dedek bayinya belum mampu menyusui. Begitu pula ketersediaan ASI ibunya. Setiap ibu pasti dianugerahi ketersediaan ASI setiap selesai melahirkan!)
Di sekitar minggu kedua dan ketiga
Lola terserang mastitis. Ini karena hampir setengan malam ia tidak menyusui. Tubuhnya
menggigil dan setelah itu terserang demam. Payudaranya membengkak dan terasa
panas. Setelah diperiksakan ia hanya diberikan obat penurun demam dan pereda
rasa nyeri. Dokter berpesan agar segera memijit payudaranya yang bengkak.
Semenjak itu Lola jauh lebih rajin
memerah ASI-nya dan menyimpannya di kulkas. Ketika itu pula ia rajin mengobati
sendiri payudaranya. Mengompres dan memijatnya setiap dua atau tiga jam sekali.
Tapi, obat mastitis yang sebenarnya
adalah si bayi itu sendiri. Pembengkakan penyumbatan saluran ASI hanya bisa
teratasi jika si ibu tetap menyusui bayinya. Sedotan bayi jauh lebih ampuh
dibandingkan alat perah ASI mana pun. Sedotan bayi yang kuat inilah yang bakal
sedikit demi sedikit memperlancar sumbatan aliran ASI.
Di waktu-waktu ini pula saya
menyaksikan betapa kuatnya Lola menahan rasa sakit ketika menyusui Banu. Sering
kali matanya seketika memeram sampai harus membungkukkan badannya menahan perih
putingnya. Di saat ini, saya semakin tersadar betapa besarnya kekuatan dan
pengorbanan seorang ibu bagi anaknya.
“Semua untuk Banu.” Begitu sering
ia katakan.
Tidak bisa dibayangkan ia rela menukar
kesakitan demi kasih sayangnya untuk buah hatinya.
“Banu adalah obat”. Begitu saya
sering katakan kepadanya.
Kurang sepekan lagi Banu berusia
dua bulan. Selama ini kami belum tahu berapa berat badan Banu setelah
dilahirkan. Seperti saya utarakan di awal tadi, belum pernah sekalipun Banu
kami periksakan ke dokter.
Sampai baru pagi hari ini kakak
ipar Ima, saudara saya, yang kebetulan bekerja di puskesmas singgah ke rumah
membawa timbangan bayi. Banu kami timbang. Berat badannya naik 2,5 kg.
Itu berarti menjelang dua bulan Banu memiliki berat badan 5,3 kg.
Itu berarti menjelang dua bulan Banu memiliki berat badan 5,3 kg.
Bagaimana dengan panjang tubuhnya?
Baru sore ini saya berinisiatif mengambil
tali rafiah, mengukur Banu di saat ia tertidur. Saya bergegas ke gudang tempat
bapak menyimpan alat-alat pertukangannya. Saya cocokkan panjang tali rafiah
dengan panjang meteran. Panjang tubuhnya bertambah 12 cm dari 47 cm menjadi 59
cm.
Sekarang saya tahu alasan di balik baju-bajunya
yang mulai kekecilan.
0 Kommentarer:
Posting Komentar