Minggu, 14 Oktober 2018

Banu di Fase Oral


SAYA baru ngeh pagi ini. Sudah hampir seminggu kuku jari Banu belum saya potong. Kukunya lebih cepat tumbuh dari pada rambutnya. Apalagi kukunya nampak sudah seperti main tanah. Ada beberapa nampak kecokelatan di sela-sela kukunya.

Sempat terjadi perbincangan menjurus perdebatan dengan Lola mengenai apakah Banu mesti menggunakan sarung tangan atau tidak. Seingat saya, Banu memakai sarung tangan hanya di minggu-minggu awal. Selebihnya saya membiarkan tangan Banu tanpa sarung tangan.

Tanpa sarung tangan jari-jari dan telapak tangan Banu akan lebih cepat belajar merasakan apa pun yang disentuhnya. Sistem saraf perabanya akan cepat berkembang. Semakin ia peka akan mudah bagi dirinya dapat memegang sesuatu dengan baik.

Tapi, tanpa sarung tangan kalau menggerakkan tangannya Banu berisiko melukai wajahnya. Apalagi jika kukunya lebih panjang. Pernah suatu waktu kulit wajahnya tergores panjang berwarna merah. Ia tanpa sengaja mencakar dengan sendirinya. Entah kapan ia melakukannya.

Saya malah berkeyakinan wajahnya yang tergores bakal sembuh dengan sendirinya. Dengan sendirinya, kulit mukanya akan beregenerasi memperbaiki sel-selnya. Lagian, ini pengalaman bagi kulit Banu untuk diuji daya tahannya.

Satu hal yang membuat hati saya merana ketika pernah salah memotong kuku jempol tangannya. Tanpa sengaja ujung jarinya yang jadi korban. Seketika Banu menangis terbangun. Ujung ibu jarinya memerah. Gumpalan darah seketika terbentuk.

Beruntung keteledoran itu tidak sampai menyobek kulit jarinya. Saya hanya mengisap ibu jarinya. Melekatkan cedera ibu jarinya ke dalam langit-langit mulut saya.

Tidak sampai sepekan kulit ibu jarinya mengering.

Tapi, sampai sekarang saya masih belum juga memotong kuku Banu yang sudah seperti tajamnya kuku kucing.

***

INFORMASI dari seorang ibu di fb mengatakan kalau kuku bayi dipotong dua kali seminggu. Pengetahuan ini nampak sepele tapi cukup bermanfaat bagi saya. Artinya setiap waktu kami harus lebih memerahatikan perkembangan Banu di setiap saat. Masalah kuku sekalipun.

Belakangan Banu memiliki kebiasaan baru. Ia dalam keadaan tertentu seringkali memasukkan jemari tangan ke mulutnya. Dalam keadaan kenyang juga demikian. Karena itu kami terkadang mesti menerka dengan benar, apakah Banu masih ingin menetek atau belum. 

Ya, salah satu tanda bayi dalam keadaan lapar selain menangis adalah ketika ia nampak mengisap-isap sendiri jari tangannya.

Para psikolog mendakukan, kebiasaan bayi memasukkan tangan atau benda-benda ke dalam mulutnya disebut fase oral. Sigmund Freud, seorang ahli psikoanalisa, bahkan memiliki penjelasan ilmiah berkenaan dengan salah satu perkembangan kepribadian ini.

Freud membagi perkembangan kejiwaan manusia di masa kanak-kanak menjadi 5 fase. Pertama adalaf fase oral yang ditandai dengan kecenderungan bayi menemukan kesenangan di sekitar mulutnya. Itulah sebabnya, di usia 0-18 bulan seorang bayi sering kali memasukkan sesuatu ke dalam mulutnya. Tangannya sekalipun.

Fase anal adalah fase kedua setelah seorang bayi melewati tahap oralnya. Di fase ini sang bayi akan lebih nyaman berlama-lama memerhatikan area analnya ketika ia BAB. Lancar tidaknya ia BAB merupakan bagian kenikmatan ketika di fase ini. Fase ini sering terjadi ketika anak-anak memasuki usia sekitar 2 sampai 3 tahun.

Di usia 3 sampai 5 tahun sang anak sudah mulai mencoba mengenal dirinya dari kelaminnya.  Pada fase ini ia akan mulai mengetahui bahwa jenis kelamin memiliki perbedaan sikap dari lawan jenisnya. Di fase ini, jika sang anak berkelamin laki-laki, ia sudah memulai meniru perbuatan ayahnya karena jenis kelamin yang sama.

Fase-fase setelahnya adalah fase Latent yang terjadi di usia 6 sampai 12 tahun, dan tahap genital di masa 12 tahun ke atas. Dua tahap ini ditandai dengan aktivitas pencarian prestasi dan pengukuhan sikap-sikap yang sudah dipelajari sang anak di dalam lingkungannya. Di fase genital, fase terakhir, sang anak sudah memiliki kecenderungan menyukai lawan jenisnya.

Banu saya duga sedang memasuki tahap oralnya. Di usianya sekarang, dia sudah mulai merasakan kenikmatan melalui mempermainkan mulutnya. Saya berkesimpulan, baik tidaknya, nyaman tidaknya, puas tidaknya cara dia menetek, juga merupakan bagian dari fase ini.

Kegagalan ketika di fase oral tidak terpenuhi dengan baik menurut para ahli jiwa akan berdampak kepada gagalnya sang anak ketika memfungsikan mulutnya di saat pertama kali belajar berbicara dan makan.

Kemarin setelah lama direncanakan akhirnya Banu memiliki gunting kuku khusus. Untuk menghindari kesalahan yang sama, saya ogah menggunakan gunting kuku yang besarnya bukan main itu.