SAYA baru ngeh pagi ini. Sudah
hampir seminggu kuku jari Banu belum saya potong. Kukunya lebih cepat tumbuh
dari pada rambutnya. Apalagi kukunya nampak sudah seperti main tanah. Ada
beberapa nampak kecokelatan di sela-sela kukunya.
Sempat terjadi perbincangan menjurus perdebatan dengan Lola mengenai
apakah Banu mesti menggunakan sarung tangan atau tidak. Seingat saya, Banu
memakai sarung tangan hanya di minggu-minggu awal. Selebihnya saya membiarkan
tangan Banu tanpa sarung tangan.
Tanpa sarung tangan jari-jari dan
telapak tangan Banu akan lebih cepat belajar merasakan apa pun yang
disentuhnya. Sistem saraf perabanya akan cepat berkembang. Semakin ia peka akan
mudah bagi dirinya dapat memegang sesuatu dengan baik.
Tapi, tanpa sarung tangan kalau
menggerakkan tangannya Banu berisiko melukai wajahnya. Apalagi jika
kukunya lebih panjang. Pernah suatu waktu kulit wajahnya tergores panjang
berwarna merah. Ia tanpa sengaja mencakar dengan sendirinya. Entah kapan ia
melakukannya.
Saya malah berkeyakinan wajahnya
yang tergores bakal sembuh dengan sendirinya. Dengan sendirinya, kulit mukanya akan beregenerasi
memperbaiki sel-selnya. Lagian, ini pengalaman bagi kulit Banu untuk diuji daya tahannya.
Satu hal yang membuat hati saya
merana ketika pernah salah memotong kuku jempol tangannya. Tanpa sengaja ujung
jarinya yang jadi korban. Seketika Banu menangis terbangun. Ujung ibu jarinya
memerah. Gumpalan darah seketika terbentuk.
Beruntung keteledoran itu tidak
sampai menyobek kulit jarinya. Saya hanya mengisap ibu jarinya. Melekatkan
cedera ibu jarinya ke dalam langit-langit mulut saya.
Tidak sampai sepekan kulit ibu
jarinya mengering.
Tapi, sampai sekarang saya masih
belum juga memotong kuku Banu yang sudah seperti tajamnya kuku kucing.
***
INFORMASI dari seorang ibu di fb
mengatakan kalau kuku bayi dipotong dua kali seminggu. Pengetahuan ini nampak sepele tapi cukup bermanfaat bagi saya. Artinya setiap waktu kami harus lebih
memerahatikan perkembangan Banu di setiap saat. Masalah kuku sekalipun.
Belakangan Banu memiliki kebiasaan
baru. Ia dalam keadaan tertentu seringkali memasukkan jemari tangan ke
mulutnya. Dalam keadaan kenyang juga demikian. Karena itu kami terkadang mesti
menerka dengan benar, apakah Banu masih ingin menetek atau belum.
Ya, salah satu
tanda bayi dalam keadaan lapar selain menangis adalah ketika ia nampak mengisap-isap
sendiri jari tangannya.
Para psikolog mendakukan, kebiasaan
bayi memasukkan tangan atau benda-benda ke dalam mulutnya disebut fase oral.
Sigmund Freud, seorang ahli psikoanalisa, bahkan memiliki penjelasan ilmiah
berkenaan dengan salah satu perkembangan kepribadian ini.
Freud membagi perkembangan kejiwaan
manusia di masa kanak-kanak menjadi 5 fase. Pertama adalaf fase oral yang
ditandai dengan kecenderungan bayi menemukan kesenangan di sekitar mulutnya. Itulah
sebabnya, di usia 0-18 bulan seorang bayi sering kali memasukkan sesuatu ke
dalam mulutnya. Tangannya sekalipun.
Fase anal adalah fase kedua setelah
seorang bayi melewati tahap oralnya. Di fase ini sang bayi akan lebih nyaman
berlama-lama memerhatikan area analnya ketika ia BAB. Lancar tidaknya ia BAB
merupakan bagian kenikmatan ketika di fase ini. Fase ini sering terjadi ketika
anak-anak memasuki usia sekitar 2 sampai 3 tahun.
Di usia 3 sampai 5 tahun sang anak sudah
mulai mencoba mengenal dirinya dari kelaminnya. Pada fase ini ia akan mulai mengetahui bahwa
jenis kelamin memiliki perbedaan sikap dari lawan jenisnya. Di fase ini, jika
sang anak berkelamin laki-laki, ia sudah memulai meniru perbuatan ayahnya
karena jenis kelamin yang sama.
Fase-fase setelahnya adalah fase
Latent yang terjadi di usia 6 sampai 12 tahun, dan tahap genital di masa 12
tahun ke atas. Dua tahap ini ditandai dengan aktivitas pencarian prestasi
dan pengukuhan sikap-sikap yang sudah dipelajari sang anak di dalam
lingkungannya. Di fase genital, fase terakhir, sang anak sudah memiliki
kecenderungan menyukai lawan jenisnya.
Banu saya duga sedang memasuki tahap oralnya. Di usianya sekarang, dia
sudah mulai merasakan kenikmatan melalui mempermainkan mulutnya. Saya
berkesimpulan, baik tidaknya, nyaman tidaknya, puas tidaknya cara dia menetek, juga
merupakan bagian dari fase ini.
Kegagalan ketika di fase oral tidak
terpenuhi dengan baik menurut para ahli jiwa akan berdampak kepada gagalnya
sang anak ketika memfungsikan mulutnya di saat pertama kali belajar berbicara
dan makan.
Kemarin setelah lama direncanakan
akhirnya Banu memiliki gunting kuku khusus. Untuk menghindari kesalahan yang
sama, saya ogah menggunakan gunting kuku yang besarnya bukan main itu.