BANU baru saja tidur. Ia pulas setelah lama menangis. Sebagai seorang laki-laki, ia memiliki suara tangisan yang lumayan nyaring. Bahkan, ketika kali pertama kami mendengar suara tangisannya, ia bahkan mengalahkan suara tangisan bayi-bayi yang sekamar dengannya. Berkat ini Banu gampang dikenali ketika ia masih di rumah sakit.
Di hati kecil saya, suara nyaring Banu
membuat saya merasa bangga. Biar bagaimanapun seorang laki-laki mesti memiliki
volume suara yang besar. Ini modal bagi seorang laki-laki jika ia ingin menjadi
pemimpin.
Entah bagaimana kaitannya, tapi saya
berfirasat, suara yang nyaring berhubungan dengan keberanian. Barangkali akan
aneh bagi seseorang pemberani jika memiliki suara yang kecil. Atau sebaliknya,
suara lumayan nyaring tapi tidak pemberani. Dua-duanya penting. Dia kualitas
seorang laki-laki.
Ada kepercayaan harapan seorang ayah
kepada anaknya karena didorong oleh kualitas tertentu yang tidak dimiliki
seorang ayah. Setiap orang tua ingin anaknya menjadi sesuatu yang tidak pernah
dicapainya. Atau mengharapkan kualifikasi yang tidak dimiliki sang orang
tuannya. Itulah mengapa setiap anak ibarat perpanjangan tangan sang orang tua.
Ia menjadi perealisasi pencapaian-pencapaian yang belum dimiliki orang tuanya.
Saya bukanlah orang pemberani. Malah
seringkali menjadi orang yang paling telat mengumpulkan keberanian.
Karena itulah, salah satu harapan saya
Banu menjadi anak pemberani. Anak yang bisa mempertahankan pendiriannya. Anak
yang memiliki bekal pikiran dan perasaan ketika menghadapi situasi genting.
Menjadi anak yang bertanggung jawab terhadap pilihan pribadinya.
Singkatnya Banu kelak menjadi pribadi
yang berinisiatif. Bergerak dengan kehendak dan kemauannya saat orang-orang di
sekitarnya malah diam acuh tak acuh.
Kiwari, saya kira, masyarakat
mengalami defisit orang-orang yang memiliki inisiatif. Seolah-olah keadaan akan
membaik tanpa ada usaha. Seolah-olah nasib yang baik dibiarkan begitu saja
berjalan semaunya entah oleh siapa dan untuk siapa.
Itu namanya fatalis.