Baru disadari Banu kerap tidur menolehkan
kepalanya ke sebelah kiri. Saat digendong pun demikian. Ketika ia bangun, arah
pandangannya pun selalu mengarah ke sebelah kiri. Bahkan belakangan, di fase
oralnya, tangan kirinya yang sering ia isap.
Kebiasaan ini lama-lama bikin kami
khawatir. Jangan-jangan ada yang salah dengan cara kami memberlakukannya,
terutama soal arah kepalanya ini.
Saya sendiri mencurigai
kebiasaannya ini dipola kebiasaannya menetek. Banu sering kali menetek sambil
tidur. Ia senang jika menetek dari payudara kanan ibunya. Itu berarti ia harus
menghadap sebelah kiri untuk dapat menyusu.
Kebiasaan ini terus berlanjut
hingga sekarang. Sampai ketika kami mulai risau.
Sebelumnya, pola menyusu Banu
bergantian dari kedua payudara ibunya. Saling bertukar ketika yang satu
diistirahatkan, yang satu ditetekinya. Sampai ketika ia mulai diajarkan
menggunakan dot. Pelan-pelan payudara kanan ibunya yang lebih sering ia teteki.
Ketika ditanya, Lola mengatakan
Banu memiliki kecenderungan menyukai asi pasca diperah. Ia bakal menolak jika
payudara ibunya penuh terisi. Dengan kata lain, Banu tidak menyukai aliran asi
yang deras keluar.
Tipikal kedua aliran asi payudara Lola
berbeda. Yang sebelah kiri lebih deras dibanding sebelah kanan. Itulah sebabnya
Banu lebih menyenangi yang sebelah kanan. Jika sambil tidur itu yang menyebabkan ia menyukai menghadap sebelah
kiri.
Sekarang untuk mengatasi hal yang
tidak-tidak, ketika tidur bantal Banu kami berikan penyanggah di sebelah
kirinya. Ini mencegah agar kepalanya tidak sering ia tolehkan ke sebelah kiri.
Susah-susah gampang memang sebab terkadang ketika itu dilakukan ia malah bangun
dan mulai sulit tidur kembali. Jika ini terjadi butuh waktu ekstra agar ia
dapat pulas kembali.
Masalah ini teratasi karena
sekarang posisi tidur Banu sudah mulai menghadap ke atas. Posisi netral. Cuman
kami khawatir jika ia kekenyangan. Banu sering kali calengnge, kadang karena
itu posisi yang baik ketika posisi kepalanya miring. Dengan gampang muntahan
sisa susunya lebih gampang ia keluarkan.
Efek nyata dari posisi tidur Banu
yang miring membuat kepalanya lumayan
peang. Memang tidak kelihatan karena disamarkan rambutnya. Ketika kita
memegang bagian samping kiri-belakang kepalanya, efek itu sangat mudah dikenali.
Jauh hari atas inisiatif Lola, Banu
dipakaikan bantal khusus anti peang (istilah Bugis-Makassar: jimpe) setelah sebelumnya kami membuat
bentuk bantal berlubang dari lipatan sarung tipis. Bantal ini sederhana saja
sebenarnya hanya ada semacam cekungan landai yang menyerupai kawah berlubang di
tengahnya.
Walaupun namanya bantal anti peang,
fungsinya kurang berlaku bagi Banu. Banu kurang nyaman menggunakannya. Ia
sering mengelengkan kepalanya. Kerap ia terbangun lantaran ini. Karena itulah,
kepalanya tetap saja peang.
Kerisauan kecil kami ini akhirnya
ditaktisi dengan cara di atas: bantal tidurnya dibuat miring diganjal di bagian
bawahnya. Dan belakangan usaha sederhana ini nampaknya bekerja dengan baik.
Lalu bagaimana dengan kepalanya yang sedikit jimpe?
Mudah-mudahan seiring waktu,
perkembangan tengkorak kepalanya dapat berbentuk normal. Jika tidak, apa boleh
buat, toh itu juga akan disamarkan oleh tumbuh rambutnya kelak.
Mengenai kesenangan Banu mengisap
tangan kirinya kami pikir itu normal. Tubuhnya akan pelan-pelan teruji dengan
bakteri yang ia kecap dari jari-jari tangannya. Itu bagian dari tubuhnya
belajar untuk mengenal beragam jenis bakteri. Lagian, fase oral seperti ini
baik bagi perkembangan mulut dan gusinya. Ia kelak akan lebih cepat belajar berbicara.
Omong-omong kecenderungan Banu yang
menyukai sebelah kiri, iseng-iseng di hati kecil saya, kelak ketika ia dewasa kesukaannya
moga-moga berlanjut kepada kiri-kiri
yang lain.
Nak, di dunia ini, kiri itu memang
seksi!
---
Nb: Setelah saya sercing bayi
yang dominan menghadapkan kepalanya ke salah satu arah tanpa berganti-ganti
kemungkinan mengalami tortikolis,
yakni kelainan leher pada bayi yang menyebabkan kepalanya miring (tilt and
twist) ke salah satu arah. Salah satu sebab penyakit ini lebih sering karena
persalinan yang kurang baik, misalnya saat kepala sang bayi dikeluarkan dengan
cara yang tidak seimbang (ada juga yang menyatakan karena posisi kepala bayi
yang tidak normal sejak dalam rahim).