APA boleh buat, belakangan Banu mengalami gagal
puting. Ia emoh berlama-lama menyusu kepada ibunya. Toh jika ia menyusu
langsung, lebih sering ia sekadar memain-mainkan lidahnya belaka.
Sementara
di satu sisi ia seringkali lebih tidak sabar untuk segera dapat mengisap air
susu ibunya. Ini memang masalah, terutama keinginan Lola agar Banu dapat
mengasi langsung tanpa melalui perantaraan dot.
Asi
bagi Banu sejauh ini lumayan berlimpah. Ibunya rajin memerah dan menyimpannya
sebagai stok jika suatu waktu diperlukan. Ini dilakukan dengan juga
mempertimbangkan jika ia berhalangan menyusui Banu secara langsung.
Kerajinannya
memerah ini bukan tanpa masalah, melainkan Lola sering mengalami perasaan tidak
nyaman ketika stok Asinya dari hari ke hari semakin memenuhi isi kulkas.
Apalagi ia kerap memikirkan akan dikemanakan jika semua Asi itu pada akhirnya
kadaluarsa. Lola juga bingung karena beberapa kali mencari orang yang
membutuhkan Asi tapi akhirnya tidak ada yang membutuhkan.
Namun,
pada akhirnya semua stok yang sudah kadaluarsa mesti digantikan. Apalagi
beberapa waktu lalu Makassar mengalami gangguan listrik yang mengakibatkan
pemadaman selama beberapa hari. Asi-nya yang semula beku kemudian mencair, dan
Asi yang sudah mencair ketika tidak digunakan sudah tidak bisa disimpan untuk
kali kedua.
Konon,
di usia 3 bulanan, bayi mulai malas-malasan menetek. Barangkali di usia ini
masa transisi trisemester pertama bayi mengalami perubahan posisi menyusu. Yang
semula sering diposisikan menyusu tidur mulai bosan dengan gaya yang sama.
Atau
seiring waktu, di usia tiga bulanan mulut bayi mengalami banyak berkembangan
berarti yang berpengaruh kepada caranya menyedot Asinya.
Namun,
kesimpulan kami berdua keengganan Banu menetek dikarenakan polah menetek yang
menggunakan dot. Awalnya polah ini hanya pilihan alternatif saat Lola mengalami
asbes pada putingnya.
Lola
saat itu mengalami kesakitan ketika menyusui. Hingga setelahnya Lola terkena
mastitis yang membuat payudaranya membengkak.
Sisi
baik dari itu, Lola lebih rajin lagi memerah dan memijit payudaranya. Kebiasaan
inilah yang akhirnya menjadi rutinitas Lola hingga sekarang. Ketika ia memiliki
kegiatan di luar yang tak bisa dihindari, dia selalu membawa alat perahnya
untuk rutin mengeluarkan endapan Asinya.
Sisi
buruknya, Banu keseringan menggunakan dot ketika ia menetek. Apalagi ia tidak
terlalu menyukai menetek kalau payudara ibunya penuh dengan air Asi. Kata Lola,
ia juga lebih menyukai aliran Asinya tidak terlalu deras mengalir kala
dihisapnya.
Usia
Banu yang sudah 3 bulan lebih juga waktunya diperkenalkan kepada benda-benda
yang mampu digenggamnya. Mulai tiga bulan, ia sudah dikondisikan dapat memegang
sesuatu.
Entah
itu diketahuinya, tapi ini baik bagi perkembangan kemampuan jari-jarinya untuk
mengenal beragam tekstur permukaan benda-benda.
Berkat
hadiah sahabat Lola, Banu sudah mulai kami perlihatkan kartu-kartu permainan
berupa gambar-gambar binatang. Kartu ini lengkap dengan nama-nama binatang,
serta ditampilkan dengan aneka ragam warna.
Walaupun
Banu hanya seperti menatapnya dengan cara yang aneh, kebiasaan ini akan
membantunya kelak terutama bagi kemampuan kognitifnya.
Dan
terakhir, yang paling tidak sesuai dengan usianya, pagi ini saya sudah
membacakannya dua cerpen yang diambil dari kumcer Corat-Coret di Toilet-nya Eka
Kurniawan. Banu nampak antusias memerhatikan dengan gaya membaca saya yang
nyaring mirip di acara-acara sastra. Sesuatu yang membuat saya bersemangat
melakukannya.
Akhirnya,
setelah saya menyudahinya dan bertanya kepadanya apakah ada sesuatu yang
dimengertinya? Yang dipahaminya? Ia hanya mengatakan
"Enggek...nggeek". Dua kata yang membuat saya berpikir keras di
pagi-pagi yang mulai mendung.