Selasa, 04 Desember 2018

Banu dan Corat-Coret di Toilet


APA boleh buat, belakangan Banu mengalami gagal puting. Ia emoh berlama-lama menyusu kepada ibunya. Toh jika ia menyusu langsung, lebih sering ia sekadar memain-mainkan lidahnya belaka.

Sementara di satu sisi ia seringkali lebih tidak sabar untuk segera dapat mengisap air susu ibunya. Ini memang masalah, terutama keinginan Lola agar Banu dapat mengasi langsung tanpa melalui perantaraan dot.

Asi bagi Banu sejauh ini lumayan berlimpah. Ibunya rajin memerah dan menyimpannya sebagai stok jika suatu waktu diperlukan. Ini dilakukan dengan juga mempertimbangkan jika ia berhalangan menyusui Banu secara langsung.

Kerajinannya memerah ini bukan tanpa masalah, melainkan Lola sering mengalami perasaan tidak nyaman ketika stok Asinya dari hari ke hari semakin memenuhi isi kulkas. Apalagi ia kerap memikirkan akan dikemanakan jika semua Asi itu pada akhirnya kadaluarsa. Lola juga bingung karena beberapa kali mencari orang yang membutuhkan Asi tapi akhirnya tidak ada yang membutuhkan.

Namun, pada akhirnya semua stok yang sudah kadaluarsa mesti digantikan. Apalagi beberapa waktu lalu Makassar mengalami gangguan listrik yang mengakibatkan pemadaman selama beberapa hari. Asi-nya yang semula beku kemudian mencair, dan Asi yang sudah mencair ketika tidak digunakan sudah tidak bisa disimpan untuk kali kedua.

Konon, di usia 3 bulanan, bayi mulai malas-malasan menetek. Barangkali di usia ini masa transisi trisemester pertama bayi mengalami perubahan posisi menyusu. Yang semula sering diposisikan menyusu tidur mulai bosan dengan gaya yang sama.

Atau seiring waktu, di usia tiga bulanan mulut bayi mengalami banyak berkembangan berarti yang berpengaruh kepada caranya menyedot Asinya.

Namun, kesimpulan kami berdua keengganan Banu menetek dikarenakan polah menetek yang menggunakan dot. Awalnya polah ini hanya pilihan alternatif saat Lola mengalami asbes pada putingnya.

Lola saat itu mengalami kesakitan ketika menyusui. Hingga setelahnya Lola terkena mastitis yang membuat payudaranya membengkak.

Sisi baik dari itu, Lola lebih rajin lagi memerah dan memijit payudaranya. Kebiasaan inilah yang akhirnya menjadi rutinitas Lola hingga sekarang. Ketika ia memiliki kegiatan di luar yang tak bisa dihindari, dia selalu membawa alat perahnya untuk rutin mengeluarkan endapan Asinya.

Sisi buruknya, Banu keseringan menggunakan dot ketika ia menetek. Apalagi ia tidak terlalu menyukai menetek kalau payudara ibunya penuh dengan air Asi. Kata Lola, ia juga lebih menyukai aliran Asinya tidak terlalu deras mengalir kala dihisapnya.

Usia Banu yang sudah 3 bulan lebih juga waktunya diperkenalkan kepada benda-benda yang mampu digenggamnya. Mulai tiga bulan, ia sudah dikondisikan dapat memegang sesuatu.

Entah itu diketahuinya, tapi ini baik bagi perkembangan kemampuan jari-jarinya untuk mengenal beragam tekstur permukaan benda-benda.

Berkat hadiah sahabat Lola, Banu sudah mulai kami perlihatkan kartu-kartu permainan berupa gambar-gambar binatang. Kartu ini lengkap dengan nama-nama binatang, serta ditampilkan dengan aneka ragam warna.

Walaupun Banu hanya seperti menatapnya dengan cara yang aneh, kebiasaan ini akan membantunya kelak terutama bagi kemampuan kognitifnya.

Dan terakhir, yang paling tidak sesuai dengan usianya, pagi ini saya sudah membacakannya dua cerpen yang diambil dari kumcer Corat-Coret di Toilet-nya Eka Kurniawan. Banu nampak antusias memerhatikan dengan gaya membaca saya yang nyaring mirip di acara-acara sastra. Sesuatu yang membuat saya bersemangat melakukannya.

Akhirnya, setelah saya menyudahinya dan bertanya kepadanya apakah ada sesuatu yang dimengertinya? Yang dipahaminya? Ia hanya mengatakan "Enggek...nggeek". Dua kata yang membuat saya berpikir keras di pagi-pagi yang mulai mendung.