Minggu, 16 Desember 2018

Banu dan Arsip


SEJAK memiliki anak, saya mulai menyadari pentingnya arsip keluarga. Entah dalam bentuk video, kumpulan foto, album perkawinan, list kegiatan, hari kejadian penting, daftar berat bedan, daftar penyakit, nota perbelanjaan, daftar obat-obatan, atau surat menyurat dapat sangat bermaanfaat ketika suatu waktu dibutuhkan.

Misalnya ketika membutuhkan informasi keuangan keluarga dalam rentang enam bulan terakhir, setidaknya catatan keuangan berupa pengeluaran dan pemasukan selama itu dapat ditelusuri melalui catatan yang sudah disiapkan.

Dari itu kita bisa melihat walaupun dengan sederhana grafik keuangan yang terjadi selama enam bulan terakhir. Apa-apa saja yang menyebabkan banyak dibutuhkan pendanaan, dalam rangka apa pendanaan digunakan, atau apa yang mesti dilakukan ketika ingin menekan biaya pengeluaran jika pemasukan sedang tidak stabil.

Atau ketika di musim tertentu ada anggota keluarga yang terserang penyakit, bisa saja yang bersangkutan membuka kembali arsip yang berkaitan dengan daftar obat apa saja yang mesti dikonsumsi ketika menghadapi penyakit yang sama. Jenis makanan apa yang mesti dihindari dan yang layak dikonsumsi jika terserang penyakit tertentu, dapat dilihat dari pencacatan arsip yang tersimpan.

Sangat mungkin juga yang bersangkutan memiliki sejumlah catatan sederhana tentang langkah apa saja yang pernah diambil untuk menyediakan kondisi agar keadaan serupa tidak terjadi lagi. Apa yang mesti dihindari agar penyakit tidak semakin parah. Dan seperti juga dengan cara seperti apa agar semua itu lebih efisien dilakukan.

Awalnya terdorong keinginan saya untuk melihat kembali foto-foto masa kecil yang ternyata sudah tidak lagi dimiliki. Besar kemungkinan, sejumlah album yang saya cari itu tercecer atau hilang entah kemana akibat beberapa kali pindah mukim.

Lantaran karena hilang dan hanya tersisa foto-foto ketika sekolah menengah pertama, saya berkesimpulan tidak terjaganya arsip keluarga dengan baik berefek kepada lumpuhnya ingatan kolektif keluarga dalam suatu momen.

Memang cenderung nostalgis, tapi begitulah. Suatu momen memang perlu diabadikan untuk menjadi modal bagi masa depan ketika suatu waktu diperlukan.

Dilihat dari segi kerja pengarsipan memang cenderung merepotkan. Bahkan membutuhkan waktu seumur hidup hanya untuk merekam dan meyimpan sejumlah data-data penting. Apalagi sifatnya yang kontinyu dan intens, kerja pengarsipan, terlebih itu bagi komunitas keluarga, perlu dilakukan secara pelan-pelan dan sabar.

Saya sendiri masih mengusahakan berbagai medium untuk kerja arsip keluarga. Sejauh ini berkat kemajuan teknologi informasi semisal blog dan rekaman foto dapat membantu itu semua lebih ringan dilakukan. Selebihnya untuk catatan-rekaman kejadian sehari-hari yang terkait dapur dan rumah tangga, untuk sementara memanfaatkan bundel buku tulis yang lebih praktis.

Dalam konteks yang lebih luas, Pramoedya Ananta Toer adalah sosok arsiparis yang patut dijadikan inspirasi. Ia bahkan menggunakan kerja arsiparis sebagai tulang punggung kerja kesastrawanannya. Bukan saja itu, melalui kegiatan kliping koran ---pekerjaan yang hilang dari kurikulum sekolah-- ia membuat satu arsip besar tentang sejarah Indonesia.

Untuk ukuran masa kini, Muhiddin M. Dahlan, adalah sosok yang menghidupkan pengarsipan sebagai laku panjang dan terus-menerus. Sosok Muhiddin sengaja melakukan pekerjaan yang juga dilakukan Pram karena melihat arti penting sejarah bagi proses regenerasi bangsa. Sejarah tanpa arsip barangkali hanya sekumpulan narasi yang nyaris menyerupai mitos. Begitu kira-kira arti arsip bagi sejarah.

Dengan kata lain, arsip begitu penting untuk menyegarkan dan bahkan mengekalkan memori yang cenderung mudah luntur dialiri waktu (sebagai contoh: ingatan kolektif bangsa yang pendek salah satu sebabnya karena tidak ditunjang dengan tradisi pengarsipan yang baik ---rindunya sebagian masyarakat kepada Orba adalah kasus yang baik tentang ini). Untuk kepentingan bangsa, arsip bahkan menjadi kaki-kaki yang menopang berdiri-awetnya suatu bangsa.

Terlepas dari semua itu, motifasi utama pentingnya arsip keluarga tidak jauh-jauh dari Banu, buah hati saya. Bahkan ia adalah porosnya. Karena dia saya mewajibkan diri menyimpan hal-hal penting berkaitan dengan dirinya.

Hari ini Banu genap berusia empat bulan.