SEJAK memiliki anak, saya mulai menyadari pentingnya arsip keluarga.
Entah dalam bentuk video, kumpulan foto, album perkawinan, list kegiatan, hari
kejadian penting, daftar berat bedan, daftar penyakit, nota perbelanjaan,
daftar obat-obatan, atau surat menyurat dapat sangat bermaanfaat ketika suatu
waktu dibutuhkan.
Misalnya
ketika membutuhkan informasi keuangan keluarga dalam rentang enam bulan
terakhir, setidaknya catatan keuangan berupa pengeluaran dan pemasukan selama
itu dapat ditelusuri melalui catatan yang sudah disiapkan.
Dari
itu kita bisa melihat walaupun dengan sederhana grafik keuangan yang terjadi
selama enam bulan terakhir. Apa-apa saja yang menyebabkan banyak dibutuhkan
pendanaan, dalam rangka apa pendanaan digunakan, atau apa yang mesti dilakukan
ketika ingin menekan biaya pengeluaran jika pemasukan sedang tidak stabil.
Atau
ketika di musim tertentu ada anggota keluarga yang terserang penyakit, bisa
saja yang bersangkutan membuka kembali arsip yang berkaitan dengan daftar obat
apa saja yang mesti dikonsumsi ketika menghadapi penyakit yang sama. Jenis
makanan apa yang mesti dihindari dan yang layak dikonsumsi jika terserang
penyakit tertentu, dapat dilihat dari pencacatan arsip yang tersimpan.
Sangat
mungkin juga yang bersangkutan memiliki sejumlah catatan sederhana tentang
langkah apa saja yang pernah diambil untuk menyediakan kondisi agar keadaan
serupa tidak terjadi lagi. Apa yang mesti dihindari agar penyakit tidak semakin
parah. Dan seperti juga dengan cara seperti apa agar semua itu lebih efisien
dilakukan.
Awalnya
terdorong keinginan saya untuk melihat kembali foto-foto masa kecil yang
ternyata sudah tidak lagi dimiliki. Besar kemungkinan, sejumlah album yang saya
cari itu tercecer atau hilang entah kemana akibat beberapa kali pindah mukim.
Lantaran
karena hilang dan hanya tersisa foto-foto ketika sekolah menengah pertama, saya
berkesimpulan tidak terjaganya arsip keluarga dengan baik berefek kepada
lumpuhnya ingatan kolektif keluarga dalam suatu momen.
Memang
cenderung nostalgis, tapi begitulah. Suatu momen memang perlu diabadikan untuk
menjadi modal bagi masa depan ketika suatu waktu diperlukan.
Dilihat
dari segi kerja pengarsipan memang cenderung merepotkan. Bahkan membutuhkan
waktu seumur hidup hanya untuk merekam dan meyimpan sejumlah data-data penting.
Apalagi sifatnya yang kontinyu dan intens, kerja pengarsipan, terlebih itu bagi
komunitas keluarga, perlu dilakukan secara pelan-pelan dan sabar.
Saya
sendiri masih mengusahakan berbagai medium untuk kerja arsip keluarga. Sejauh
ini berkat kemajuan teknologi informasi semisal blog dan rekaman foto dapat
membantu itu semua lebih ringan dilakukan. Selebihnya untuk catatan-rekaman
kejadian sehari-hari yang terkait dapur dan rumah tangga, untuk sementara
memanfaatkan bundel buku tulis yang lebih praktis.
Dalam
konteks yang lebih luas, Pramoedya Ananta Toer adalah sosok arsiparis yang
patut dijadikan inspirasi. Ia bahkan menggunakan kerja arsiparis sebagai tulang
punggung kerja kesastrawanannya. Bukan saja itu, melalui kegiatan kliping koran
---pekerjaan yang hilang dari kurikulum sekolah-- ia membuat satu arsip besar
tentang sejarah Indonesia.
Untuk
ukuran masa kini, Muhiddin M. Dahlan, adalah sosok yang menghidupkan
pengarsipan sebagai laku panjang dan terus-menerus. Sosok Muhiddin sengaja
melakukan pekerjaan yang juga dilakukan Pram karena melihat arti penting
sejarah bagi proses regenerasi bangsa. Sejarah tanpa arsip barangkali hanya
sekumpulan narasi yang nyaris menyerupai mitos. Begitu kira-kira arti arsip bagi
sejarah.
Dengan
kata lain, arsip begitu penting untuk menyegarkan dan bahkan mengekalkan memori
yang cenderung mudah luntur dialiri waktu (sebagai contoh: ingatan kolektif
bangsa yang pendek salah satu sebabnya karena tidak ditunjang dengan tradisi
pengarsipan yang baik ---rindunya sebagian masyarakat kepada Orba adalah kasus
yang baik tentang ini). Untuk kepentingan bangsa, arsip bahkan menjadi
kaki-kaki yang menopang berdiri-awetnya suatu bangsa.
Terlepas
dari semua itu, motifasi utama pentingnya arsip keluarga tidak jauh-jauh dari
Banu, buah hati saya. Bahkan ia adalah porosnya. Karena dia saya mewajibkan
diri menyimpan hal-hal penting berkaitan dengan dirinya.
Hari
ini Banu genap berusia empat bulan.