AWALNYA adalah nama Kalila wa Dimnah.
Justru setelahnya keputusan ini mendapatkan pertentangan dari Lola, istri
saya. Terdengar feminin, katanya.
Ya, sebelumnya, setelah
dipikir-pikir Kalila wa Dimnah rencananya akan dijadikan nama anak laki-laki
pertama saya. Nama ini diambil dari cerita fabel masyhur yang memiliki
sejarah panjang.
Kalilah dan Dimnah adalah karakter
yang menjadi nama bagi seekor Serigala dan Singa dalam cerita yang menggunakan binatang sebagai tokoh-tokohnya.
Dalam ceritanya Kalilah wa Dimnah adalah karangan sastra yang berisi pengetahuan tentang karakter, nasihat-nasihat, pesan moral, dan keagungan kebaikan yang mewakili sifat-sifat dasar manusia berkaitan dengan bagaimana ia berinteraksi dengan sesamanya.
Dalam ceritanya Kalilah wa Dimnah adalah karangan sastra yang berisi pengetahuan tentang karakter, nasihat-nasihat, pesan moral, dan keagungan kebaikan yang mewakili sifat-sifat dasar manusia berkaitan dengan bagaimana ia berinteraksi dengan sesamanya.
Fabel ini dikarang ahli hikma, Baidaba,
seorang filosof India yang hidup lebih dari dua puluh abad lalu. Seperti
dituliskan versi penerbitan Balai Pustaka Djakarta 1959, hikayat ini
diasalkan dari keresahan Baidaba terhadap perilaku kepemimpinan raja yang menguasai hindustan saat itu.
Kalila wa Dimnah nyatanya adalah karangan yang memiliki gaya penceritaan dengan nuansa kritik. Dengan menggunakan binatang-binatang Baidaba memanfaatkan karakter seperti itu untuk mengingatkan tentang sifat-sikap manusia yang bisa saja berubah lantaran lebih mengutamakan kepentingan sesaat.
Dengan kata lain, dalam konteks kehidupan Baidaba, karangan ini ditujukan kepada seorang raja bernama Djabsalim berkaitan dengan kepemimpinannya yang tidak adil.
Kenapa binatang? Karena menurut keyakinan agama Brahmana, binatang asal mulanya juga adalah manusia. Banyak sifat-sifat manusia dapat ditemukan dan dibandingkan di dalam sifat-sifat binatang. Begitu kira-kira.
Kalila wa Dimnah nyatanya adalah karangan yang memiliki gaya penceritaan dengan nuansa kritik. Dengan menggunakan binatang-binatang Baidaba memanfaatkan karakter seperti itu untuk mengingatkan tentang sifat-sikap manusia yang bisa saja berubah lantaran lebih mengutamakan kepentingan sesaat.
Dengan kata lain, dalam konteks kehidupan Baidaba, karangan ini ditujukan kepada seorang raja bernama Djabsalim berkaitan dengan kepemimpinannya yang tidak adil.
Kenapa binatang? Karena menurut keyakinan agama Brahmana, binatang asal mulanya juga adalah manusia. Banyak sifat-sifat manusia dapat ditemukan dan dibandingkan di dalam sifat-sifat binatang. Begitu kira-kira.
Kalila Wa Dimnah bukan sekadar
hikayat tunggal. Penceritaannya bercabang-cabang membentuk aliran penceritaan
baru di setiap ceritanya. Semuanya terdiri dari dua belas bab dengan karakter
penokohan dari semisal Singa, serigala, barung hantu, gagak, kera, kura-kura, tikus, kucing,
maupun kakaktua.
Mula-mula Kalilah wa Dimnah ditulis
dengan bahasa sansekterta. Menurut terbitan Balai Pustaka, diterangkan bahasa
Tibet adalah bahasa pertama yang menerjemahkan hikayat ini.
Setelah berabad-abad lamanya, abad
ke-6 M timbul inisiatif Kisra Anu Sjirwan seorang raja dari Persia yang
menyukai ilmu pengetahuan untuk mencari karangan ini dan menerjemahkannya ke
dalam bahasa Parsi.
Ibnu Al-Muqoffa, sastrawan muslim
asal Arab, kemudian menterjemahkannya ke dalam bahasa Arab tanpa mengubah makna
yang terkandung di dalam karya aslinya. Ibnu Al-Muqoffa juga seorang juru tulis
Abu Dja’far Mansur, seorang khalifah dari Bani Abbasyiah.
Kalilah wa Dimnah telah
diterjemahakan lebih dari sepuluh bahasa termasuk bahasa Indonesia yang
dikerjakan Balai Pustaka dari terjemahan bahasa Arabnya.
***
WALAUPUN dalam hikayat merupakan
nama karakter binatang, Kalila berarti orang yang dicintai dalam bahasa Arab. Ini
setidaknya kedengaran lebih masuk akal jika dibandingkan dari maknanya ketika
dihubungkan dengan figur ceritanya.
Tapi di balik keinginan menamainya
Kalila, saya ingin nama anak saya memiliki hubungan tertentu dengan dunia
sastra. Memang ada unsur ketidaksengajaan ketika berusaha mencari nama calon
anak saya.
Hasil pencarian saat itu entah mengapa kecantol dengan nama ini. Selain bunyi namanya saya suka karena bayak huruf vokal, ternyata nama ini merupakan nama karangan sastra masyhur seperti saya ceritakan di atas.
Hasil pencarian saat itu entah mengapa kecantol dengan nama ini. Selain bunyi namanya saya suka karena bayak huruf vokal, ternyata nama ini merupakan nama karangan sastra masyhur seperti saya ceritakan di atas.
Semenjak itu saya membatin untuk
fix menamai anak saya Kalila wa Dimnah. Terlebih lagi ada alasan kuat yang mengemuka
saat itu, yakni dengan menamainya demikian, kelak dewasa anak saya suatu waktu
bisa mengerti dan mengetahui namanya
adalah judul karangan sastra yang sarat makna dan ajaran.
Melalui cara itu mungkin ia dapat belajar dari namanya sendiri. Dengan kisah-kisah di dalamnya.
Melalui cara itu mungkin ia dapat belajar dari namanya sendiri. Dengan kisah-kisah di dalamnya.
Tapi, seperti saya katakan di awal,
keinginan ini tidak diindahkan istri saya. Ia ingin mengubah Kalila menjadi
Kalil agar lebih cocok dengan jenis kelamin anak kami.
Hingga akhirnya tidak ada alasan
yang dapat diterima. Masing-masing bersikukuh. Dan nyatanya nama ini hanya
sekadar menjadi usulan belaka.
0 Kommentarer:
Posting Komentar