Minggu, 07 Oktober 2018

Kalila wa Dimnah


AWALNYA adalah nama Kalila wa Dimnah. Justru setelahnya keputusan ini mendapatkan pertentangan dari Lola, istri saya. Terdengar feminin, katanya.

Ya, sebelumnya, setelah dipikir-pikir Kalila wa Dimnah rencananya akan dijadikan nama anak laki-laki pertama saya. Nama ini diambil dari cerita fabel masyhur yang memiliki sejarah panjang.

Kalilah dan Dimnah adalah karakter yang  menjadi nama bagi seekor Serigala dan  Singa dalam cerita yang menggunakan binatang sebagai tokoh-tokohnya. 

Dalam ceritanya Kalilah wa Dimnah adalah karangan sastra yang berisi pengetahuan tentang karakter, nasihat-nasihat, pesan moral, dan keagungan kebaikan yang mewakili sifat-sifat dasar manusia berkaitan dengan bagaimana ia berinteraksi dengan sesamanya.

Fabel ini dikarang ahli hikma, Baidaba, seorang filosof India yang hidup lebih dari dua puluh abad lalu. Seperti dituliskan versi penerbitan Balai Pustaka Djakarta 1959, hikayat ini diasalkan dari keresahan Baidaba terhadap perilaku kepemimpinan raja yang menguasai hindustan saat itu. 

Kalila wa Dimnah nyatanya adalah karangan yang memiliki gaya penceritaan dengan nuansa kritik. Dengan menggunakan binatang-binatang Baidaba memanfaatkan karakter seperti itu untuk mengingatkan tentang sifat-sikap manusia yang bisa saja berubah lantaran lebih mengutamakan kepentingan sesaat. 

Dengan kata lain, dalam konteks kehidupan Baidaba, karangan ini ditujukan kepada seorang raja bernama Djabsalim berkaitan dengan kepemimpinannya yang tidak adil. 

Kenapa binatang? Karena menurut keyakinan agama Brahmana, binatang asal mulanya juga adalah manusia. Banyak sifat-sifat manusia dapat ditemukan dan dibandingkan di dalam sifat-sifat binatang. Begitu kira-kira.

Kalila Wa Dimnah bukan sekadar hikayat tunggal. Penceritaannya bercabang-cabang membentuk aliran penceritaan baru di setiap ceritanya. Semuanya terdiri dari dua belas bab dengan karakter penokohan dari semisal Singa, serigala, barung hantu, gagak, kera, kura-kura, tikus, kucing, maupun kakaktua.

Mula-mula Kalilah wa Dimnah ditulis dengan bahasa sansekterta. Menurut terbitan Balai Pustaka, diterangkan bahasa Tibet adalah bahasa pertama yang menerjemahkan hikayat ini.

Setelah berabad-abad lamanya, abad ke-6 M timbul inisiatif Kisra Anu Sjirwan seorang raja dari Persia yang menyukai ilmu pengetahuan untuk mencari karangan ini dan menerjemahkannya ke dalam bahasa Parsi.

Ibnu Al-Muqoffa, sastrawan muslim asal Arab, kemudian menterjemahkannya ke dalam bahasa Arab tanpa mengubah makna yang terkandung di dalam karya aslinya. Ibnu Al-Muqoffa juga seorang juru tulis Abu Dja’far Mansur, seorang khalifah dari Bani Abbasyiah.

Kalilah wa Dimnah telah diterjemahakan lebih dari sepuluh bahasa termasuk bahasa Indonesia yang dikerjakan Balai Pustaka dari terjemahan bahasa Arabnya.

***

WALAUPUN dalam hikayat merupakan nama karakter binatang, Kalila berarti orang yang dicintai dalam bahasa Arab. Ini setidaknya kedengaran lebih masuk akal jika dibandingkan dari maknanya ketika dihubungkan dengan figur ceritanya.  

Tapi di balik keinginan menamainya Kalila, saya ingin nama anak saya memiliki hubungan tertentu dengan dunia sastra. Memang ada unsur ketidaksengajaan ketika berusaha mencari nama calon anak saya. 

Hasil pencarian saat itu entah mengapa kecantol dengan nama ini. Selain bunyi namanya saya suka karena bayak huruf vokal, ternyata nama ini merupakan nama karangan sastra masyhur seperti saya ceritakan di atas.

Semenjak itu saya membatin untuk fix menamai anak saya Kalila wa Dimnah. Terlebih lagi ada alasan kuat yang mengemuka saat itu, yakni dengan menamainya demikian, kelak dewasa anak saya suatu waktu bisa mengerti dan  mengetahui namanya adalah judul karangan sastra yang sarat makna dan ajaran. 

Melalui cara itu mungkin ia dapat belajar dari namanya sendiri. Dengan kisah-kisah di dalamnya.

Tapi, seperti saya katakan di awal, keinginan ini tidak diindahkan istri saya. Ia ingin mengubah Kalila menjadi Kalil agar lebih cocok dengan jenis kelamin anak kami.

Hingga akhirnya tidak ada alasan yang dapat diterima. Masing-masing bersikukuh. Dan nyatanya nama ini hanya sekadar menjadi usulan belaka.

0 Kommentarer:

Posting Komentar