Sabtu, 06 Oktober 2018

Pasca Kehamilan Ektopik, Anak ini Bernama: Banu Tabrizi El Baqir


BANU adalah anugerah. Bahkan sebuah keajaiban. Dalam istilah medis, anak saya ini diistilahkan sebagai HSVB (High Social Value Baby) atau anak mahal. Anak mahal adalah keadaan kandungan bayi bagi ibu hamil yang memiliki riwayat keguguran berkali-kali.

Dalam kasus Lola istri saya, ia sempat mengalami tiga kali keguguran. Apalagi keguguran yang ketiga ia mesti menjalani operasi akibat kehamilan ektopik. Risiko terakhir ini membuat istri saya mesti kehilangan tuba falopinya yang sebelah kanan. Tuba falopinya harus dipotong sebab jabang bayi yang dikandungnya saat itu menempel di salah satu saluran tuba dan berkembang di luar rahim (ovarium).

Seperti istri saya, siapa pun perempuan yang telah menjalani operasi kehamilan ektopik kecil peluang untuk mendapatkan anak.

Tapi cara Tuhan membuat skenario sungguh luar biasa. Pasca operasi saya bersama istri berencana istirahat dari program kelahiran. Di luar kehendak kami, belum genap dua bulan pasca operasi, istri saya mengandung lagi.

Ketika mengetahui istri mengandung, kami berdua dihinggapi kecemasan mengingat keadaan Lola yang masih masa penyembuhan. Bagaimana mungkin dalam keadaan demikian rahimnya kuat mengandung seorang bayi.

Beberapa kali kami membicarakan keadaan ini. Apa langkah yang harus diambil. Apa kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi. Apalagi ada ketakutan jika kehamilan kali ini bisa berisiko kehamilan ektopik seperti sebelumnya. Jika tidak, apakah jabang bayi tidak akan membuat perut istri saya menjadi sakit lantaran bekas operasi yang belum sembuh total.

Saking takutnya, di hati kecil saya saat itu terbersit keinginan menggugurkan jabang bayi sesegera mungkin sebelum perkembangannya semakin membesar. Saya tidak ingin istri saya mengalami risiko melebihi ketika ia mesti terbaring hampir kehilangan kesadaran kala sebelum operasi ektopik. Perutnya mengalami kesakitan yang sangat lantaran perkembangan janin yang membesar bukan pada tempatnya.

Perlu diketahui kehamilan ektopik seperti informasi yang saya cari berisiko kematian. Hal ini terjadi ketika sang calon ibu mengalami pendarahan hebat dikarenakan kandungannya yang pecah. Karena tidak kuat menahan sakit pecahnya kandungan inilah yang sering kali membuat seorang calon ibu meninggal dunia.

Dalam kasus istri saya, setelah ditelusuri melalui USG, ia mengalami pendarahan hebat. Melihat situasi saat itu, seorang suster segera mengingatkan saya agar bertindak cepat ketika seketika diputuskan mesti segera dioperasi. Jika terlambat ditangani dan proses menjelang operasi yang lamban, kata suster kala itu akan berisiko kematian. “Apakah sempat terjadi sebelumnya, Sus?” kata saya. “Iya, pak. Pernah ada yang “lewat”” jawab suster setelah mengingatkan agar segera bertindak cepat.

Mengingat peristiwa itu, menghadapi kehamilan Lola yang kali keempat saya memilih keselamatan istri. Ini saya pikir jauh lebih realistis dibandingkan kandungannya yang masih sangat muda. Saat itu melalui hitungan masa haid, usia kandungan Lola masih berusia sekitar satu bulan. Masih sangat sangat muda.

Tapi, keputusan kami saat itu segera memeriksanya ke dokter kandungan. Opsi saat itu bagi saya, jika memang kasusnya masih kehamilan ektopik maka sesegera mungkin digugurkan entah dengan cara apa. Jika tidak dan kandungannya normal, sesuai harapan Lola maka ia mesti dipertahankan.

“Dipertahankan” saat itu berarti lain di pikiran saya. Itu artinya seiring membesarnya janin, maka secara otomatis akan membuat irisan operasi di perut Lola mengalami “gangguan”. Semakin membesar janin makan semakin membuat perut istri saya melar dan itu dalam keadaan bekas sayatan yang belum kering betul.

Tapi apa boleh buat. Risiko mesti diambil.

Dan setelah diperiksakan, melalui keterangan dokter terjadi penebalan rahim. Ini artinya Lola memang positif hamil.

Mengingat riwayat kehamilan Lola yang tiga kali keguguran dan pernah operasi kehamilan ektopik membuat dokter terheran-heran. Sangat jarang perempuan yang mengalami operasi kehamilan luar kandungan dapat segera hamil kembali. Peluangnya kecil karena hanya memiliki satu indung telur.

Namun, tetap saja kala itu belum ada keterangan pasti apakah kandungan kali ini dinyatakan di dalam rahim ataukah tidak. Itulah sebabnya, untuk mengetahui secara pasti Lola dimintai memeriksakan kembali kandungannya sepekannya lagi.

Kandungan Lola saat itu diketahui berusia lima minggu. Kata dokter jika pekan depan diketahui di luar kandungan, maka segera akan diberikan suntikan metotreksat agar menggagalkan janin berkembang.

Hari-hari setelah itu rasa was-was masih mengintai kami berdua. Selama sepekan nasib kandungan istri saya belum bisa dipastikan. Hingga akhirnya di pekan depannya kandungan Lola dinyatakan tumbuh di dalam rahim. Dan dinyatakan dalam keadaan baik.

“Pertahankan ki, Bu. Bagusji kandungan ta.”

“Bagaimana dengan bekas operasiku, Dok? Apakah tidak berbahaya ji?

“Tidak ji, Bu. Apalagi tidak bersamaan dengan dedek bayinya. Lagian nanti usia empat bulan ke atas baru membesar perut ta.

“Rahim ta baik-baik ji. Kan yang dibelah kemarin bukan rahim ta, hanya perut ta.

Begitulah kejadian saat itu. Kami khawatir perkembangan janin bakal menyakiti bekas sayatan di perut Lola yang belum kering.

Syahdan tiap minggu kami dimintai rutin memeriksakan kandungan Lola. Mulai saat itu istri saya rutin diberikan obat penguat agar janinnya dapat berkembang dengan baik.

***

BANU adalah amanah. Kehadirannya awalnya di luar perencanaan kami. Semenjak dinyatakan sehat dalam kandungan, ia senantiasa kami rawat sekemampuan kami. Sebisa mungkin. Sekeras-kerasnya.

Sering kali manusia berencana tapi Tuhanlah yang menentukan. Kata Imam Ali, ketika seluruh rencana kita amburadul tidak berjalan sesuai harapan, di saat-saat seperti itu justru Tuhan begitu dekat dengan kita. Ia hadir mengendalikan jalan cerita di tengah-tengah kita. Saat itu skenarioNya-lah yang sedang berjalan.

Di saat seperti itu kita dianjurkan jangan bersedih apalagi sampai marah. Seharusnya di kondisi itu kita mesti ikhlas. Bukankah skenario Tuhan jauh lebih baik berkali-kali lipat dibanding kehendak kita?

Itulah sebabnya di dalam Al Qur’an dinyatakan apa yang baik bagi kita belum tentu baik di mata Tuhan. Begitu pula, jangan sampai yang buruk di mata kita justru sebaliknya itulah yang baik bagi Tuhan.

Satu hal yang membuat Banu istimewa karena ia dihadirkan di luar persangkaan kami. Ia adalah realisasi dari kemauan Tuhan. Suatu rencana matang dari perencanaan siapa pun.

Banu dengan demikian adalah keajaiban di tengah-tengah kami berdua. Ia sebenar-benarnya anugerah.
Jika demikian, lalu apa yang mesti dikhawatirkan?


0 Kommentarer:

Posting Komentar