Minggu, 28 Oktober 2018

Suara Banu



BANU baru saja tidur. Ia pulas setelah lama menangis. Sebagai seorang laki-laki, ia memiliki suara tangisan yang lumayan nyaring. Bahkan, ketika kali pertama kami mendengar suara tangisannya, ia bahkan mengalahkan suara tangisan bayi-bayi yang sekamar dengannya. Berkat ini Banu gampang dikenali ketika ia masih di rumah sakit.

Di hati kecil saya, suara nyaring Banu membuat saya merasa bangga. Biar bagaimanapun seorang laki-laki mesti memiliki volume suara yang besar. Ini modal bagi seorang laki-laki jika ia ingin menjadi pemimpin.

Entah bagaimana kaitannya, tapi saya berfirasat, suara yang nyaring berhubungan dengan keberanian. Barangkali akan aneh bagi seseorang pemberani jika memiliki suara yang kecil. Atau sebaliknya, suara lumayan nyaring tapi tidak pemberani. Dua-duanya penting. Dia kualitas seorang laki-laki.

Ada kepercayaan harapan seorang ayah kepada anaknya karena didorong oleh kualitas tertentu yang tidak dimiliki seorang ayah. Setiap orang tua ingin anaknya menjadi sesuatu yang tidak pernah dicapainya. Atau mengharapkan kualifikasi yang tidak dimiliki sang orang tuannya. Itulah mengapa setiap anak ibarat perpanjangan tangan sang orang tua. Ia menjadi perealisasi pencapaian-pencapaian yang belum dimiliki orang tuanya.

Saya bukanlah orang pemberani. Malah seringkali menjadi orang yang paling telat mengumpulkan keberanian.

Karena itulah, salah satu harapan saya Banu menjadi anak pemberani. Anak yang bisa mempertahankan pendiriannya. Anak yang memiliki bekal pikiran dan perasaan ketika menghadapi situasi genting. Menjadi anak yang bertanggung jawab terhadap pilihan pribadinya.

Singkatnya Banu kelak menjadi pribadi yang berinisiatif. Bergerak dengan kehendak dan kemauannya saat orang-orang di sekitarnya malah diam acuh tak acuh.

Kiwari, saya kira, masyarakat mengalami defisit orang-orang yang memiliki inisiatif. Seolah-olah keadaan akan membaik tanpa ada usaha. Seolah-olah nasib yang baik dibiarkan begitu saja berjalan semaunya entah oleh siapa dan untuk siapa.

Itu namanya fatalis.

Kamis, 18 Oktober 2018

Banu diimunisasi


16 Oktober kemarin Banu genap berusia 2 bulan. Sehari sebelumnya, di 15 Oktober hari jadi pernikahan saya dan Lola. Itu berarti usia pernikahan kami sudah genap dua tahun. Masih seumuran jagung memang. Jagung muda malah.

Kembali ke Banu anak saya. Seperti bayi umumnya, di usia 2 bulan berarti sudah layak dan mesti diimunisasi. Tadi pagi setelah direncanakan dari semalam, Banu akhirnya disuntik obat imun DPT dan polio.

Banu diimunisasi oleh petugas kesehatan yang datang langsung ke rumah. Sejak diimunisasi pertama kali, petugas kesehatan yang dimaksud cukup dihubungi via telepon saja. Setelah diiyakan sang petugas bisa datang langsung ke rumah. Cukup fleksibel daripada harus pergi ke puskesmas atau sejenisnya.

Saat menulis ini Banu sedang tertidur. Sejak dari siang dia rewel dan tidak berhenti menangis. Mungkin dia merasa perih di bekas suntikannya. Di pahanya tertera setitik hitam bekas suntikan. Banu malah lebih menangis jika kain kompres mengena pahanya.

Umumnya ketika bayi diberikan DPT akan mengalami demam. Banu juga sudah mulai mengalami demam. Panas tubuhnya pelan-pelan meningkat. Untuk meminimalisirnya dari tadi saya sudah memberikan kompresan tempelan di keningnya. Agak lucu melihat tempelannya tidak melekat keseluruhan karena dahi Banu yang lumayan “dontu”.

Intinya sekarang Banu sedang beradaptasi dengan zat yang masuk di dalam tubuhnya. Sistem imunnya sedang bekerja. Semoga besok panas tubuhnya kembali normal.