Lemari buku kecil itu akhirnya jadi juga, meski belum sepenuhnya sesuai harapan.
Kemarin sore kayu-kayu ini saya simpan setelah lemari
sebelumnya saya bongkar menggunakan palu, dan mencabut paku-pakunya hingga
amblas. Pagi tadi setelah beberes rumah, saya bergegas membeli gergaji, paku,
dan juga sayur. Setelah melihat bahan tersisa, saya mulai menerka-nerka akan
seperti apa bentuk lemari yang akan saya buat.
Bergegas saya mengambil meteran, yang tidak sepenuhnya saya
gunakan. Palu, pensil dan penggaris. Dan, kemudian berusaha mengukur dan
setelahnya saya memulai menggergaji bahan kayu sesuai ukuran.
"Abi... Abi."
Rupanya keributan kecil di teras rumah mengusik tidur Banu,
dan membuatnya terbangun dan segera "ikut serta" dalam aksi
tukang-tukangan ini.
"Rumahnya Banu di?"
Rupanya Banu mengira saya akan membuat mainan rumah-rumahan
untuknya, sama seperti saat saya membuatkannya dari kardus-kardus bekas
beberapa hari belakangan ini.
"Untuk buku-bukunya Abi, nak."
Saya berkilah saat Banu ingin terlibat memain-mainkan
meteran seolah-olah sedang mengukur sesuatu.
"Rumahnya Banu, di?"
Banu masih mengira itu dibuat untuk menjadi mainannya. Saat
ini dia sudah seperti cacing yang menjulurkan kepalanya masuk di kolong
kaki-kaki lemari.
"Awas, nak! Paku!
"Rumahnya Banu, Abi!?"
"Abi... Abi. Kuee?"
Hampir setiap pagi Banu mesti makan kue. Ia memang kuat
makan kue. Hampir semua kue, bahkan.
Memalu. Mengukur, menggergaji. Saya dan Banu demikian intens
dalam kegiatan ini. Ia seolah menjadi asisten saya.
Banu, coba lihat sudah selesai. Tidak lama ia mengambil mobil-mobilannya. Memarkirnya di atas dan menyulapnya menjadi garasi mininya.

0 Kommentarer:
Posting Komentar