Senin, 08 Februari 2021

Garasi Mini Banu

 

Lemari buku kecil itu akhirnya jadi juga, meski belum sepenuhnya sesuai harapan.

Kemarin sore kayu-kayu ini saya simpan setelah lemari sebelumnya saya bongkar menggunakan palu, dan mencabut paku-pakunya hingga amblas. Pagi tadi setelah beberes rumah, saya bergegas membeli gergaji, paku, dan juga sayur. Setelah melihat bahan tersisa, saya mulai menerka-nerka akan seperti apa bentuk lemari yang akan saya buat.

Bergegas saya mengambil meteran, yang tidak sepenuhnya saya gunakan. Palu, pensil dan penggaris. Dan, kemudian berusaha mengukur dan setelahnya saya memulai menggergaji bahan kayu sesuai ukuran.

"Abi... Abi."

Rupanya keributan kecil di teras rumah mengusik tidur Banu, dan membuatnya terbangun dan segera "ikut serta" dalam aksi tukang-tukangan ini.

"Rumahnya Banu di?"

Rupanya Banu mengira saya akan membuat mainan rumah-rumahan untuknya, sama seperti saat saya membuatkannya dari kardus-kardus bekas beberapa hari belakangan ini.

"Untuk buku-bukunya Abi, nak."

Saya berkilah saat Banu ingin terlibat memain-mainkan meteran seolah-olah sedang mengukur sesuatu.

"Rumahnya Banu, di?"

Banu masih mengira itu dibuat untuk menjadi mainannya. Saat ini dia sudah seperti cacing yang menjulurkan kepalanya masuk di kolong kaki-kaki lemari.

"Awas, nak! Paku!

"Rumahnya Banu, Abi!?"

Begitulah. Saat ini saya membatin "lihat dan pelajari, nak! Suatu waktu setidaknya engkau mesti punya keterampilan semacam ini."

"Abi... Abi. Kuee?"

Hampir setiap pagi Banu mesti makan kue. Ia memang kuat makan kue. Hampir semua kue, bahkan.

Memalu. Mengukur, menggergaji. Saya dan Banu demikian intens dalam kegiatan ini. Ia seolah menjadi asisten saya.

Banu, coba lihat sudah selesai. Tidak lama ia mengambil mobil-mobilannya. Memarkirnya di atas dan menyulapnya menjadi garasi mininya.

0 Kommentarer:

Posting Komentar