Banu sekarang lebih antusias kepada kucing, dan tentu juga ayam. Dua hewan yang sangat ia sukai, dan sering ia tiru suaranya.
Tapi, kali ini entah bagaimana perasaannya, saat ia pagi tadi melihat langsung proses penyembelihan sapi dengan kedua matanya sendiri. Tanpa saya tutup matanya—dan ia menolak saat ditutup—ia menyaksikan langsung kucuran darah segar bercipratan dari leher sembelihan yang dibelah pisau panjang Ance-nya.
Tentu ia belum tahu, peristiwa itu adalah peristiwa ritus kurban, yang mengikuti kurang lebih jalan cerita Ibrahim dan Ismail, dan sudah tentu Siti Hajar, ibu dari anak yang nyaris jadi kurban sembelihan.
Tapi, apakah ia merasakan perasaan ganjil, dikarenakan sapi, hewan yang juga sering ia dengungkan suaranya, tiba-tiba ditidurkan, diikat, dan akhirnya disembelih dan kemudian mati, dan tidak lama ia lihat segera dikuliti?
Akh, semoga diusianya ini—yang jelang dua tahun Agustus nanti—dari peristiwa itu, tidak membuat trauma atau semacamnya bagi dirinya. Semoga ia tidak berkesimpulan itu sebagai tindakan biadab terhadap hewan, yang kecil kemungkinan dapat ia pikir dan simpulkan sendiri. Meski, di usianya kini, kata mamaknya, usia yang sudah mampu menyimpan ingatan atas peristiwa tertentu ke dalam memorinya.
Kita orang dewasa sudah sering melihat aksi kekerasan, pembunuhan, jagal, darah, dan tubuh yang terkoyak-koyak akibat manipulasi ego, kekuasaan, dan perebutan demi harta. Tidak sedikit dari kita, gagal mengambil hikmah dari deretan peristiwa-peristiwa semacam itu dikarenakan kemampuan kita nyaris selevel anak-anak.
Tuhan,
di peristiwa kurban, hampir saja membuat Ibrahim menjadi bapak pembunuh darah
dagingnya sendiri. Meski itu awalnya adalah perintah untuk mengurbankan apa
yang paling dekat dan paling kita cintai sekalipun: Ismail.
Dan kini, dari perjalanan kehidupan yang tak selamanya mampu kita atasi, kita kerap menimbun segalanya agar makin dekat di hati; keadaan yang sebenarnya disorot dari ritus kurban.
Dari sekian banyak kurban, kita mungkin gagal memaknai apa arti darah hewan sembelihan yang mengucur, dari urat leher yang putus, dan lebih memerhatikan peristiwa itu sebagai aktivitas konsumsi belaka, pada akhirnya.
Kemarin, saat dalam perjalanan ke Bulukumba, di Jeneponto, di sebagian tempat di pinggir jalan menjajakan menjual daging kuda lengkap dengan kepalanya yang sudah terpisah, yang matanya tertutup seperti sedang tidur saja.
Sampai
kini, saya kadang bergidik sendiri jika itu adalah kepala buah hati, orang yang
paling kita sayangi.
0 Kommentarer:
Posting Komentar