BANU BERULANG TAHUN. Banu, apa jadinya jika setelah engkau lahir Agustus dua tahun lalu, nama untukmu dipilih menjadi Agus? Atau Dirgahayu? Atau Mahardika, atau bahkan Merdeka sekalian? Apakah itu akan mengubah takdirmu? Apakah itu berarti engkau akan memiliki nasib tidak seperti sekarang ini? Apakah semua itu akan berpengaruh kepada kehidupanmu kelak?
Entahlah,
nak. Pikiran ini selalu menggangguku belakangan ini. Takdir saya kira punya
jalan cerita sendiri. Dan, nama seorang anak ketika ia disematkan secara resmi
sejak ia berusia tujuh hari, juga punya lika-likunya sendiri. Nama, adalah doa,
dan biarkan alam yang bekerja.
Kini,
tepat sehari sebelum perayaan kemerdekaan Indonesia, usiamu genap dengan
sendirinya.
Baru
saja, sehabis bangun pagi, mamakmu sigap memesan kue untuk ultahmu. Tidak lama
kemudian seorang perempuan ojol tiba di depan pagar rumah membawa kue pesanan.
Tidak ada perencanaan sebelumnya memang.
Ini hanya cara mamakmu mengisi hari ultahmu.
Tidak
ada perayaan berlebihan selain kita bertiga yang sibuk mengambil foto-foto.
Bahkan tidak ada satupun di antara kita yang saat itu telah mandi. Kopiku bahkan, belum setengahnya
habis.
Saat
itu, satu dua gambar menarik dan berhasil disimpan. Selebihnya hanya foto yang
digerutui dikarenakan ada-ada saja pose yang tidak diinginkan. Urusan begini mamakmu yang paling
bawel.
Masih
singkat memang, tapi kini dirimu telah banyak mengajari kami banyak hal menjadi
orang tua: mengontrol emosi, merencanakan masa depan, menyisihkan uang, meredam
keinginan, dan segala-galanya.
Sekarang,
pusat gravitasi bagi keluarga kecil kita ada pada dirimu. Meski itu mesti
diperjuangkan, dipelajari, dan dipelajari. Lagi.
Banu,
mainannmu kini meruah, dinding rumah nyaris semuanya jadi tempatmu bermain
corat-coret. Sudah berapa kali buku-buku kau sobek, hambur dan telantarkan.
Banyak
juga alat tulis sudah kau gunakan, sikat gigi, sendal, sendok, dan kini
beberapa pakaianmu mulai mengecil. Tubuhmu seinci demi inci jadi makin besar,
meski berat badanmu tidak naik sepesat sebelumnya.
Banu,
engkau tahu, belakangan ini lingkungan kehidupan kita terancam ambruk.
Ekonominya, pendidikannya, budayanya, bahkan politiknya. Masing-masing berubah
total. Kehidupan kita terisolasi dan
saling membatasi diri. Bahkan dua orang bisa saling curiga jika bertemu. Ya,
korona lah sebabnya.
Mau
bagaimana lagi, itu semua kurang lebih berpengaruh kepada dirimu. Hampir 6
bulan engkau hidup tanpa banyak keluar rumah. Lingkungan sosialmu tiba-tiba
menciut tepat di usia pada saat engkau membutuhkannya. Engkau otomatis jarang
bertemu banyak orang, bahkan teman-temanmu di tetangga sebelah yang harusnya
jadi teman mainmu di sore hari.
Singkatnya,
engkau sedikitnya tumbuh tanpa keriangan seperti biasanya, yang berpengaruh
kepada mentalmu. Engkau menjadi lebih khawatir jika jauh dari Abi atau mamakmu.
Engkau akhirnya membutuhkan lebih banyak waktu “berkenalan” jika bertemu orang
baru. Lebih selektif dan mawas diri.
Entahlah,
apakah itu ada artinya bagi dirimu kelak. Sekarang tugasmu hanya satu:
lakukanlah apa yang engkau suka. Cobalah segala hal. Jangan takut berusaha, dan
jangan marah jika engkau tidak berhasil menyusun bertingkat mobil mainamu itu.
Banu,
selama kita bertiga jadi makin intens di rumah, saya dan mamakmu mendapatkan
satu hal penting dari dirimu beberapa bulan ini. Ia tumbuh bersama usiamu:
egomu mulai kelihatan. Engkau sudah mulai menunjukkan kemauan-kemauan yang
intens. Keakuanmu hari demi hari makin besar, nak.
Selamat
ulang tahun, nak. 16 Agustus 2020.
0 Kommentarer:
Posting Komentar