Minggu, 20 September 2020

Banu Berulang Tahun


BANU BERULANG TAHUN. Banu, apa jadinya jika setelah engkau lahir Agustus dua tahun lalu, nama untukmu dipilih menjadi Agus? Atau Dirgahayu? Atau Mahardika, atau bahkan Merdeka sekalian? Apakah itu akan mengubah takdirmu? Apakah itu berarti engkau akan memiliki nasib tidak seperti sekarang ini? Apakah semua itu akan berpengaruh kepada kehidupanmu kelak?

Entahlah, nak. Pikiran ini selalu menggangguku belakangan ini. Takdir saya kira punya jalan cerita sendiri. Dan, nama seorang anak ketika ia disematkan secara resmi sejak ia berusia tujuh hari, juga punya lika-likunya sendiri. Nama, adalah doa, dan biarkan alam yang bekerja.

Kini, tepat sehari sebelum perayaan kemerdekaan Indonesia, usiamu genap dengan sendirinya. 

Baru saja, sehabis bangun pagi, mamakmu sigap memesan kue untuk ultahmu. Tidak lama kemudian seorang perempuan ojol tiba di depan pagar rumah membawa kue pesanan. Tidak ada  perencanaan sebelumnya memang. Ini hanya cara mamakmu mengisi hari ultahmu.

Tidak ada perayaan berlebihan selain kita bertiga yang sibuk mengambil foto-foto. Bahkan tidak ada satupun di antara kita yang saat itu  telah mandi. Kopiku bahkan, belum setengahnya habis.

Saat itu, satu dua gambar menarik dan berhasil disimpan. Selebihnya hanya foto yang digerutui dikarenakan ada-ada saja pose yang tidak  diinginkan. Urusan begini mamakmu yang paling bawel.

Masih singkat memang, tapi kini dirimu telah banyak mengajari kami banyak hal menjadi orang tua: mengontrol emosi, merencanakan masa depan, menyisihkan uang, meredam keinginan, dan segala-galanya.

Sekarang, pusat gravitasi bagi keluarga kecil kita ada pada dirimu. Meski itu mesti diperjuangkan, dipelajari, dan dipelajari. Lagi.

Banu, mainannmu kini meruah, dinding rumah nyaris semuanya jadi tempatmu bermain corat-coret. Sudah berapa kali buku-buku kau sobek, hambur dan telantarkan.

Banyak juga alat tulis sudah kau gunakan, sikat gigi, sendal, sendok, dan kini beberapa pakaianmu mulai mengecil. Tubuhmu seinci demi inci jadi makin besar, meski berat badanmu tidak naik sepesat sebelumnya.

Banu, engkau tahu, belakangan ini lingkungan kehidupan kita terancam ambruk. Ekonominya, pendidikannya, budayanya, bahkan politiknya. Masing-masing berubah total.  Kehidupan kita terisolasi dan saling membatasi diri. Bahkan dua orang bisa saling curiga jika bertemu. Ya, korona lah sebabnya.

Mau bagaimana lagi, itu semua kurang lebih berpengaruh kepada dirimu. Hampir 6 bulan engkau hidup tanpa banyak keluar rumah. Lingkungan sosialmu tiba-tiba menciut tepat di usia pada saat engkau membutuhkannya. Engkau otomatis jarang bertemu banyak orang, bahkan teman-temanmu di tetangga sebelah yang harusnya jadi teman mainmu di sore hari.

Singkatnya, engkau sedikitnya tumbuh tanpa keriangan seperti biasanya, yang berpengaruh kepada mentalmu. Engkau menjadi lebih khawatir jika jauh dari Abi atau mamakmu. Engkau akhirnya membutuhkan lebih banyak waktu “berkenalan” jika bertemu orang baru. Lebih selektif dan mawas diri.

Entahlah, apakah itu ada artinya bagi dirimu kelak. Sekarang tugasmu hanya satu: lakukanlah apa yang engkau suka. Cobalah segala hal. Jangan takut berusaha, dan jangan marah jika engkau tidak berhasil menyusun bertingkat mobil mainamu itu.

Banu, selama kita bertiga jadi makin intens di rumah, saya dan mamakmu mendapatkan satu hal penting dari dirimu beberapa bulan ini. Ia tumbuh bersama usiamu: egomu mulai kelihatan. Engkau sudah mulai menunjukkan kemauan-kemauan yang intens. Keakuanmu hari demi hari makin besar, nak.

Selamat ulang tahun, nak. 16 Agustus 2020.

0 Kommentarer:

Posting Komentar